Alergi merupakan suatu reaksi abnormal dalam tubuh yang disebabkan zat-zat yang tidak berbahaya. Alergi timbul bila ada kontak terhadap zat tertentu yang biasanya, pada orang normal tidak menimbulkan reaksi. Saat ini, penduduk dunia yang terkena alergi mencapai 20?. Jumlah itu terus meningkat dari tahun ke tahun. Tak pelak lagi, kualitas hidup dan produktivitas kerja para penderita alergi menurun saat alergi mereka kambuh.
Jelas bahwa penyakit alergi ini sangat mengganggu kualitas hidup, prestasi belajar anak-anak, produktivitas kerja sampai kepada gangguan kejiwaan. Bahkan, menurut data, dari 150 juta orang di seluruh dunia yang menderita asma sebagai salah satu gejala alergi. 180.000 orang diantaranya meninggal dunia setiap tahunnya!
Karena kian seriusnya persoalan alergi, dari suatu pertemuan berkaitan Kongres Alergi se-Dunia yang berlangsung di Muenchen, Jerman, 26 Juni – 1 Juli 2005, para pakar kemudian mencetuskan bahwa tanggal 8 Juli sebagai Hari Alergi Se-Dunia.
Faktor Genetik Plus Lingkungan.
Secara garis besar, penyebab alergi dapat diklasifikasikan menjadi beberapa faktor. Pertama adalah faktor genetik, yaitu alergi yang terjadi akibat turunan genetika dari orang tua; Kedua, faktor psikologis yang berupa kecemasan, stres, depresi; dan, faktor yang paling sering menyebabkan alergi, yaitu faktor lingkungan luar, baik dari lingkungan tempat tinggal atau makanan yang kita makan.
Hal-hal yang menyebabkan alergi antara lain debu rumah, binatang piaraan, kecoa, karpet, dan lingkungan kerja yang tidak sehat. Pengaruh asap rokok juga sangat membahayakan penderita alergi, termasuk para ibu hamil karena bayinya nanti bisa menderita asma. Zat-zat yang dapat menimbulkan beragam jenis alergi tersebut disebut sebagai alergen.
Alergen bisa berasal dari berbagai jenis senyawa atau materi dan masuk ke tubuh dengan berbagai cara. Bisa saja melalui saluran pernapasa, berasal dari makanan, melalui suntikan atau bahkan bisa juga timbul akibat adanya kontak dengan kulit, seperti kosmetik, logam perhiasan atau jam tangan, dll.
Pada orang yang menderita alergi, sistem kekebalan tubuhnya memandang alergen sebagai benda asing. Saat antigen memasuki tubuh secara otomatis seluruh jaringan akan melakukan suatu proses kompleks untuk mengenali benda asing tersebut. Sel darah putih menghasilkan antibodi spesifik untuk melawan antigen. Proses ini disebut sensitisasi. Antibodi bekerja dengan mendeteksi da merusak substansi yang menyebabkan penyakit. Pada reaksi alergi, Antibodi dikenal sebagai Immunoglobuin E atai lgE. Kemudian, antibodi ini memerintahkan para mediator untuk memproduksi semacam zat yang mampu mengurangi kadar kimia dan hormone yang dimiliki antigen.
Tidak hanya zat-zat asing dari luar tubuh yang dapat menimbulkan alergi, obat, susu, bahkan sperma dari pasanganpun bisa menimbulkan reaksi alergi. Setelah reaksi alergi ini, kemudian timbullah gejala alergi di berbagai bagian tubuh.
Di hidung, alergi bisa mengakibatkan pilek, bersin-bersin; di mata bisa mengakibatkan merah dan berair; di kulit mengakibatkan biduran atau eksim; sementara di usus bisa mengakibatkan rasa mulas, buang air terus-menerus, dan muntah. Karena itu, untuk menghindari alergi adalah dengan menghindari alergen ini . biasanya timbul satu atau beberapa gejala pengiring yang mengikuti alergi. Dalam kasus tertentu, reaksi alergi diidap si penderita sepanjang hidupnya.
Menentukan Penyebab Alergi
Zat (alergen) yang paling sering menyebabkan alergi adalah serbuk tanaman; jenis rumput tertentu; jenis pohon yang berkulit halus dan tipis; serbuk spora; pinisilin; seafood; telur; kacang panjang, kacang tanah, kacang kedelai dan kacang-kacangan lainnya; susu; jagung; dan tepung jagung; sengatan insekta; bulu binatang; kecoa; debu dan kutu. Yang juga tidak kalah sering adalah zat aditif pada makanan, penyedap, pewarna dan pengawet.
Menentukan penyebab alergi dapat dilakukan dengan cara berikut :
· Menghindari zat yang dicurigai sebagai alergen. Jika kemudian gejala hilang cobalah kembali berinteraksi dengan zat tersebut. Bila yang dicurigai sebagai alergen adalah salah satu jenis makanan, maka sebaiknya berhenti memakan makanan tersebut. Setelah gejalanya hilang, coba kembali memakannya dan melihat apakah terjadi reaksi yang sama.
· Melakukan tes alergi dan melihat riwayat keluarga serta riwayat frekuensi serangan terjadi. Bila salah satu dari orang tua menderita alergi, maka kemungkinan risiko penyakit tersebut diturunkan pada anak sekitar 25%-30%. Sementara itu, bila kedua orang tua adalah penderita, maka risiko meningkat menjadi 60%-70%. Selain itu perlu dilakukan pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang antara lain tes alergi pada kulit, foto rontgen, pemeriksaan laboratorium, dan pemeriksaan lebih lanjut bila dibutuhkan.
· Tes pada kulit merupakan pemeriksaan yang sangat sederhana untuk mendiagnosa alergi. Dengan memberikan zat-zat tertentu pada kulit seseorang, dapat diketahui zat yang merupakan alergen pada orang tersebut. Caranya adalah dengan menyuntikkan suatu zat dalam jumlah kecil. Bila terjadi pembengkakan pada bagian yang diberi suntikkan, maka zat tersebut adalah merupakan alergen.
Kelompok orang yang mudah terjangkiti reaksi alergi:
1. Pernah mengalami alergi tertentu pada masa sebelumnya.
2. Penderita asma.
3. Orang yang mengalami gangguan pada suatu pernapasannya.
4. Penderita polip.
5. Penderita infeksi pada sinus, telinga atau pangkal tenggorokan.
6. Orang yang memiliki kulit sensitif.
Beragam Gejala Alergi
Gejala yang mungki terjadi akibat alergi adalah rasa gatal pada tenggorokan; gatal pada mulut; gatal pada mata; gatal pada kulit atau bagian tubuh lainnya; sakit kepala; hidung tesumbat atau hidung meler; sesak napas; bengek; kesulitan menelan; mendadak pilek dan bersin-bersin, dll. Pengobatan alergi tergantung pada jenis dan berat gejalanya. Tujuan pengobatannya bukanlah menyembuhkan melainkan mengurangi gejala dan menghindari serangan yang lebih berat di masa yang akan datang.
Gejala yang ringan biasanya tidak memerlukan pengobata khusus. Gejala akan menghilang beberapa saat kemudian. Pemberian Antihistamin dapat membantu meringankan berbagai gejala. Penanganan alergi yang paling tepat bukanlah dengan obat-obatan melainkan dengan cara menghindari alergen.
Secara teoritis, alergi memang tidak bisa dihilangkan, tetapi dapat dikurangi frekuensi dan berat serangannya. Namun, sering sekali dalam keseharian, alergen sulit dihindari. Untuk itu, diperlukan sistem kekebalan tubuh untuk mencegah alergi. Jadi, optimalkan asupan nutrisi Anda agar sistem kekebalan tubuh tetap terjaga atau justru meningkat.
Beberapa Tips Ringan Mencegah Alergi:
ü Menjaga kelembaban ruangan dengan mengatur sirkulasi angin dan udara.
ü Menjaga kebersihan pakaian dan mengganti sprei sedikitnya seminggu sekali.
ü Membersihkan pekarangang dan memastikan tidak ada tumpukan sampah dan genangan air yang akan menjadi tempat timbulnya jamur.
ü Konsultasi dengan dokter dan melakukan tes alergi untuk mengetahui alergen-alergen yang harus dihindari.
Tags: top counselling